Sabtu, 13 September 2014

mencari Komodo

Jalan - jalan atau liburan atau petualangan itu :
- rencanain sendiri dan hitung sendiri ...
- backpacking style ...
- with the power of "sandal" and white converse shoes ...
- improvisation ...
- to the max attitude ...
- ndak mandi, ndak make-up-an ...
- mengisi tas setengah saja, sisanya buat oleh - oleh ...
- ndak perlu foto, mata adalah kamera terbaik buatan Tuhan ...
- be brave ... lo ga bakal ketemu dia lagi kok besok ... he he he ...

Dan semuanya tadi ada di perjalanan ke Komodo di 4 - 9 September 2014 kemarin.

Hari ke -1 (040914)
Sawangan - Cengkareng - Lombok - Mandalika - Kayangan - Poto Tuan - almost Bima

Sawangan - Cengkareng - Lombok
Dimulai dari rumah, diiringi doa dan harapan dari mama agar gw ga usah dekat dekat laut pas liburan ini (bagaimana bisa? lah tujuannya aja snorkeling).
Dibekali dengan risol mayonaise ham dan teh manis hangat, berangkatlah saya ke bandara. 
Sampai di bandara, ketemu satu kawan lama dan 2 kawan baru (yang diimport langsung dari KorSel). 
Bertambah 2 kawan baru dalam hidup gw ... sip sip sip.

Ke Lombok dengan menumpang maskapai singa (yang tumben on time kali ini) selama 1,5 jam. Dari BIL kami melanjutkan perjalanan ke terminal bus. Dengan kenaifan dan malesnya kita nanya ke supir akhirnya kita salah turun, harusnya turun di Pool Damri dan melanjut dengan taksi ke terminal Mandilika, kita malah turun di tempat yang salah yang menyebabkan harus bayar taksi lebih mahal (Rp. 35.000). Usahakan cari taksi yang burung biru, supir taksi ini jujur dan mau kasih saran - saran, kalo taksi lain suka ngajak muter muter dulu yang bikin sewa taksi jadi mahal (saran dari penduduk lokal loh).

Sampai di terminal Mandalika, calo - calo yang kayaknya jumlahnya jauh lebih banyak dari penumpang busnya mulai berdatangan menawarkan tiket (awas aja berani colek2 ....) dan tiket yang diperkirakan seharga Rp. 150.000/orang ternyata berharga Rp. 190.000/orang. Dengan naifnya kita memberikan uang tiket ke sembarangan orang bukan ke satu orang, dan mereka menganggap kita kurang membayar, akhirnya Rp. 50.000 harus direlakan untuk menebus kenaifan kita dan meredakan ketegangan. Disarankan untuk pesan tiket bus jauh jauh hari di agen resmi untuk menghindari para abang - abang calo ini. Setelah kenaifan, ketegangan dan lupa makan siang, berangkatlah kami ke Bima dengan menggunakan bus "Golden World". Terbekatilah mama yang sudah membekali dengan risoles mayonaise -ham buat saya dan teman - teman sehingga bisa mengganjal perut yang lapar. 

Sore harinya kami sampai ke Pelabuhan Kayangan untuk menyeberang dari Lombok ke Bima. Ferry yang dipakai cukup bagus, biaya tiket ferry sudah temasuk dalam harga tiket bus. Ada kantin, ada kabin penumpang, ada mushola, ada playground dan ada tv kabel (dirumah aja ga ada). Bakso di ferry ini cukup enak, pedas, hangat dan murah (Rp. 12.000), cukup untuk mengganjal perut. Waktu di ferry kami habiskan di kabin penumpang sambil menonton "Jack the Giant Slayer", yang waktu filmnya berakhir, sampai pula kami di NTB. Perjalanannya cukup nyaman, dan membuat kami cukup yakin bahwa kami adalah keturunan pelaut (ingat lagu "nenek moyangku seorang pelaut" kan?)

Perjalanan kami berlanjut dengan bus menuju Terminal Bima dengan mampir sebentar di rumah makan untuk makan malam (biaya makan ini sudah termasuk dalam paket tiket bus ... worth it lah untuk tiket seharga Rp. 200.000).

saya nyempil dibelakang

the view 


Hari ke-2 (050914)
Terminal Bima - Sape - Labuan Bajo

Di pagi hari, sekitar jam 4 pagi, sampailah kami di terminal bis Bima. Langsung turun, cari bus ke pelabuhan Sape, taruh barang dan cari tempat duduk dan menunggu bus berangkat. Biaya perjalanan ke pelabuhan Sape adalah seharga Rp. 25.000/orang/bus. Perjalanan dari Bima ke Sape melalui jalan berkelok - kelok kayak jalur Sumatera, tapi karena saking ngantuknya, sama sekali tidak terasa kelokannya (dasar kebo...). 

Kita sampai di Sape sekitar jam 08.00, langsung ke loket tiket untuk membeli tiket ferry seharga Rp. 54.000/orang. Karena ferry berangkat jam 09.00, kami menyempatkan diri untuk sarapan. Porsinya cukup nampol, enak, hangat dan murah (Rp. 13.000), sama dengan harga di warung nasi dekat kantor. Selesai sarapan kami menuju ferry dan mulai mencari spot yang nyaman untuk menghabiskan kurang lebih 7.5 jam perjalanan dengan kapal menuju Labuan Bajo. Tidak ada yang gratis didunia ini, untuk mendapat sopt yang enak, nyaman dan bebas asap rokok, kita masing - masing harus bayar Rp. 25.000/orang untuk bisa duduk di bangku dalam ruangan ber-AC. Ya, sudahlah, daripada bengek ngirup rokok.

Perjalanan 7,5 jam dengan kapal ini benar - benar menguji fisik dan kepercayaan gw apakah gw keturunan pelaut atau bukan. Mendekati jam ke 4, perut sudah berontak, kepala sudah keliyengan dan gw mulai bersahabat dengan minyak kayu putih dan tolak angin. Tapi gw percaya, bahwa hanya tidurlah yang mampu menyembuhkan segalanya (sudah terbukti sebelumnya - sakit perut, sakit kepala bahkan sakit hati bisa sembuh karena tidur ... loh curhat!!!), maka tidurlah gw, dan terbukti saudara - saudara, saya sembuh setelah saya tidur (atau karena daratan sudah mulai kelihatan di depan mata? ... entahlah)...

Kami sampai di Labuan Bajo di sore hari, waktu yang tepat untuk mandi dan bersih bersih setelah nyaris tidak mandi selama dua hari. Kami langsung ke penginapan - Chez Felix namanya - bed and breakfast kind of thing. AKhirnya bisa ketemu kamar mandi, dan kasur ... bahagianya.... 

Mencari makanan di Labuan Bajo cukup mudah, semuanya ada, ada gorengan, martabak, bakso, mie ayam, soto, masakan padang dan gado - gado, cimol dan siomay aja yang ga keliatan. Tapi saat ditanya makanan khas disini apa, ga ada yang bisa jawab ... ya sudahlah. Malam itu, perut diisi dengan gado - gado karena ada sayur, dan sayur sangat baik untuk pencernaan (ngerti kan maksudnya apa??). Cukup murah harganya, Rp. 13.000 untuk gado- gado dan teh manis hangat (yang ga ada rasa tehnya, hanya manis saja).

 


Hari ke-3 (060914)
Labuan Bajo - Pulau Kanawa

Di hari ini perjalanan sebenarnya untuk snorkeling dan mencari Komodo dimulai. Kami menginap di Pulau Kanawa, sebuah pulau yang berjarak sejam perjalanan dari Labuan Bajo menggunakan boat. 

Pulau Kanawa itu:
- dikelola oleh orang Indonesia tapi yang punya resort orang Italia .... hello pegimana itu maksudnya???
- a self sustain island - listrik dari sel surya, ada peternakan ayam untuk menyediakan telur segar setiap hari ...
- menyediakan bale - bale panggung dengan satu kasur berkelambu untuk berdua, satu lampu dan kantung barang, tempat sampah dan bak cuci kaki dibawahnya seharga Rp. 275.000/bale-bale/malam
- menyediakan hanya 2 kamar mandi dan 2 WC untuk seluruh pulau yang saat itu berpenghuni mungkin 80 - 100 orang
- hanya memperkenankan mandi dengan air mengalir pelan selama 2 - 3 menit, karena kalau kelebihan bakal ada tamu yang ga dapat mandi (disini lo ga boleh egois dan harus mikirin orang lain .... saya suka ...)
- disini sepi dan jauh dari sinyal, jadi hp mending dimatiin aja ... 
- harga makanan mulai dari 40ribu (dessert) - 85 ribu (main course) dan minuman mulai dari 5ribu (refil air 1,5 L) - 950 ribu (absolute vodka) ... porsinya gede - porsi bule - yang bagi gw bisa buat makan dua kali untuk sekali beli ...
- matahari terbit jam 6 pagi dan terbenam jam 6 sore
- dibelakang resort ada bukit yang bisa didaki untuk bisa lihat pulau secara keseluruhan ....
- pada saat itu, orang Indonesia-nya hanya kami berempat dan pegawai resort (banyak siswa SMK yang lagi praktek ternyata), selebihnya adalah bule bule dari berbagai negara .... wisatawan Indonesianya ga tau apa ga mau kesini ya?! ...
- hidup disini kayak lagi hidup disalah satu episode SURVIVOR .... saya makin suka ...
- terumbu karang disini ada yang letaknya pendek banget sampai dalam banget, dan semuanya dirawat, bule bule disini lebih galak dari kita kalo sampai ada yang ngerusak terumbu karang (baik disengaja atau engga)

Di hari itu, setelah menyerap semua keadaan dipulau, gw mulai snorkeling. Dilengkapi dengan life jacket, fin dan snorkel, (oh, iya sewanya Rp. 60.000/hari), saya ngesot dari tepi pantai sampai sedikit menjauh dari laut. Dan pemandangan bawah permukaannya itu .... KEREN ... lo ketemu Nemo, Dory, spongebob, patrick, terumbu karang warna warni, besar dan kecil.
Disini saya belajar untuk mulai mengalahkan rasa takut saya bermain air (laut), harus punya attitude "just do it", masak ga bisa?? ...

 

 






Hari ke-4 (070914)
Kanawa - Komodo - epic fail ...
Rencana hari ini ke Pulau Komodo - untuk cari komodo (komodo dicari? ntar kalo dah ketemu malah lari lagi ....), trus ke Pink Beach dan sekitarnya ...
Dikarenakan pulau Komodo terletak di kepulauan luar maka perjalanan ke Komodo adalah sekitar 3-4 jam dari Kanawa. Dengan persiapan perut penuh (habis sarapan) dan perlengkapan snorkeling, sandal jepit, sepatu, sun block berangkatlah kami ke Komodo.
Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, mesin kapal rusak (ada sesuatu yang patah) dan akhirnya kita terombang - ambing selama kurang lebih 3 jam. Gelombang laut mulai dari kecil hingga besar menerpa (duh bahasanya...) kapal kami, kondisi fisik yang tadinya oke jadi menurun, perut menjadi bergejolak, kepala keliyengan dan hilang keseimbangan. Minyak kayu putih dan v*cks v*por*b kembali menjadi sahabat untuk menghalau eneq yang ada. Kembali meragukan asal usul keturunan sendiri (apakah benar keturunan pelaut atau bukan?) dan sudah mulai muncul sumpah tak terucap untuk mencium bumi ketika nanti bertemu daratan.

Akhirnya kapal (kecil) bantuan datang dan berupaya menderek kapal kami, namun usaha ini ga bertahan lama karena mesin kapal ga kuat, kembalilah kami terombang ambing lagi. Setelah menunggu beberapa lama, datanglah kapal kedua yang akhirnya menjadi penyelamat kami dan bisa membawa kami kembali ke daratan (yyyeeeaaayyyy).

Ternyata terombang ambing begitu lama di lautan benar benar menguras tenaga, sesaat setelah sampai daratan (ga jadi cium bumi, langsung baikan pas daratan sudah ada di depan mata ... lagian lebay aja kalo sampai cium bumi), langsung ke bale - bale dan ketemu kasur dan akhirnya tepar.

Totally no regrets hari ini ... di hari ini gw belajar, kalau diri sendiri punya batas dan ga bisa bisa ngelawan alam ...

 















Hari ke-5 (080914)
Kanawa - Rinca - sukses ...
Kegagalan kemarin tidak menyurutkan niat kami untuk mencari Komodo di pulau lain. Terpilihlah pulau Rinca, dengan posisi yang lebih dekat dengan Kanawa dan lebih banyak komodo daripada di pulau Komodonya.

Pintu masuk ke Rinca (Loh Buaya) itu melalui ceruk, diapit dua sisi pulau, ga keliatan kalau dari jauh. Tiket masuk di Pulau Rinca adalah sekitar Rp. 60.000 sudah termasuk biaya penggunaan kamera dan berbagi biaya snorkeling). 

Trail di Rinca terdiri dari 3 trail, short, medium dan long trail. Rombongan kami yang terdiri dari 4 Indonesia dan 9 bule, akhirnya memilih medium trail yang melewati ranger compound, hutan, dan padang sabana. Ketika melewati ranger compound, banyak komodo yang berkumpul terutama di dekat dapur. Kata rangernya, komodonya ngumpul disitu karena nyium bau makanan (jadi komodonya ngerti baunya sambal, sop dan rendang kali yak?!) dan ada juga rusa, yang merupakan makanan komodo. Komodonya lagi kenyang saat itu, karena baru dikasih makan. Komodo hanya perlu dikasih makan sebulan sekali, tapi sekali makan, bisa ngabisin satu rusa atau satu kerbau (pantes perutnya gede semua, ga cowok ga cewek ... gembul sih).

Perjalanan dilanjutkan melalui hutan, dan terlihat beberapa komodo yang sedang menjaga telurnya, tapi kalau sudah menetas, induk komodo akan mencoba memakan bayinya sendiri dengan maksud untuk membangun insting bayi komodo tadi (aih, seram betul ....). Jalan lagi dan ketemu ayam hutan (turkey) yang katanya selalu berpasangan dan akan selalu bersama selamanya (lebay nih rangernya).

Trail berakhir di dekat ranger compound dan souvenir shop, sekalian deh beli souvenir pahatan komodo (untuk rumah dan teman) dan kaos (untuk bokap). Pas beli pahatan komodo, penjaganya sampe bilang terima kasih, karena dengan beli ini, kita berarti bantu pemahat tradisional. Pahatannya bagus, mirip dengan komodo aslinya dan punya ukuran yang bervariasi (sebesar telapak tangan hingga sebesar tangan) dan harga bervariasi dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. 

Dari Rinca, kita berencana snorkeling dispot dekat Rinca dengan pemandangan bawah permukaan yang baik. Dikarenakan gelombang tinggi dan arus yang kuat, kami hanya disarankan untuk snorkeling selama 20 - 30 menit saja. Disinilah saya akhirnya memberanikan diri loncat dan nyemplun ke laut. Dengan menggunakan life jacket, fin dan snorkel disertai dengan bergandengan tangan dengan teman, akhirnya Anne (iya Anne) loncat dari kapal dan nyemplung ke laut. Ga akan pernah nyesel untuk yang satu ini, pemandangan bawah permukaan KEREN, jauh lebih KEREN dari pantai Kanawa. Lebih banyak nemo, dory, terumbu karang warna warni dan ikan ikan lain yang bervariasi yang kayaknya harus baca ensiklopedia untuk tahu nama dan spesiesnya. 

Namun karena gelombang tinggi dan arus yang kuat, kami diminta segera kembali ke kapal. Ini benar benar ngejar kapal loh ... kapalnya nganyut terbawa arus dan kita harus berenang (Anne ga bisa berenang lho ...) untuk bisa sampe sana. Dengan segenap tenaga, menggerakan semua kaki dan tangan disertai doa dalam hati akhirnya bisa juga naik ke kapal (yyyeeeeaaaayyy). Perjalanan dilanjutkan menuju Kampung Nelayan yang letaknya hanya sepandangan mata dari Kanawa, namun sayangnya kita ga jadi kesana karena mesin kapal kembali berasap dan agar terulang lagi yang kemarin, kita akhirnya memutuskan untuk kembali ke Kanawa. 

Ga puas snorkeling di lepas pantai Rinca, kami lampiaskan dengan kembali snorkeling di lepas pantai Kanawa. Akibat pengalaman sebelumnya, kami jadi lebih berani berenang menjauhi pantai Kanawa dan menuju deep blue sea .... KEREN lah pokoknya ...

Btw, biaya tour Rinca ini adalah Rp. 350.000/orang sudah termasuk makan siang dan alat snorkel.


 

 
























Hari ke-6 (090914)
Kanawa - Labuan Bajo - Bali - Cengkareng - Sawangan
It's time to go home ...

Kanawa ke Labuan Bajo dengan boat ...
Jalan jalan disekitar Labuan Bajo, niatnya mau cari oleh - oleh tapi ga ada yang jual, akhirnya belanja di souvenir shop (Exotic) dekat Bandara Komodo. Dengan diantar pakai taksi Av*nz* (Rp. 25.000/orang) sampailah kami ke Exotic dan belanja beberapa souvenir untuk keluarga dirumah (ada kaos, kain tradisional, ikan kering, abon ikan, kopi, dll). 
Setelah selesai berbelanja, lanjut ke Bandara Komodo Labuan Bajo untuk memulai perjalanan kembali ke rumah melalui Bali dan Jakarta.

 


 


 

Perjalanan 6 hari yang menyenangkan, penuh petualangan dan "menegangkan" ... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar