Minggu, 16 Juli 2017

Belajar Tentang Gambut Untuk Mengajar Gambut




Lahan gambut adalah sisa dari tumbuhan mati, yang belum terurai secara sempurna dan telah terkumpul selama ribuan tahun di lingkungan berair. Lingkungan ini langka oksigen dan pada akhirnya menjadikan gambut menjadi tempat akumulasi dan penyimpanan karbon. Sekitar 70% lahan gambut tropis terletak di Asia Tenggara dan Indonesia dengan iklim tropisnya memiliki lahan gambut yang menyelimuti 10% dari daratan Indonesia. Lahan gambut ini memanjang seluas 16,8 hingga 27,0 juta hektar (Page and Banks, 2007) dan menyebar didaerah pesisir maupun pedalaman Sumatra, Kalimantan, dan Papua (Wahyunto et al., 2003, 2004; Janiecke, 2010; Page et al., 2011).  Lahan gambut tropis di Indonesia terbentuk akibat akumulasi pembusukan tidak sempurna sisa – sisa tumbuhan selama ribuan tahun (±15000 tahun) dan telah mencapai kedalaman hingga lebih dari 10 meter.


 Gambar 1. Sebaran lahan gambut di dunia (Freeman, 2012)

 
Gambar 2. Peta Sebaran Lahan Gambut Indonesia (edited from www.greenpeace.org)

Karakteristik Lahan Gambut Indonesia
Lahan gambut Indonesia memiliki ekosistem yang sangat khas. Kekhasan ini dipengaruhi oleh ekosistemnya yang selalu digenangi air setiap tahunnya dan jauh dari gangguan. Dengan karakteristik lahan gambut tersebut beserta vegetasi yang tumbuh diatasnya menjadikan lahan ini memiliki sumber daya alam dengan berbagai fungsi. Fungsi – fungsi tersebut antara lain adalah sebagai pendukung berbagai kehidupan keanekaragaman hayati, pelestarian sumberdaya air, peredam banjir, pencegah intrusi air laut, dan pengendali iklim (melalui kemampuannya dalam memendam dan menyerap karbon). Karakteristik lahan gambut ini mampu menjadi pendukung berbagai kehidupan keanekragaman hayati, Jenis – jenis hayati yang ada di lahan ini terdiri dari flora dan fauna. Flora yang ada pada lahan tersebut antara lain berupa kayu rotan, pandan, palem-paleman dan berbagai jenis liana. Jenis fauna yang dapat ditemukan di lahan tersebut antara lain berupa berbagai jenis mamalia, reptil, ikan, dan burung.

Peran lain dari lahan gambut Indonesia adalah sebagai pelestarian sumberdaya air dan peredam banjir. Lahan gambut Indonesia mempunyai kemampuan dalam menyerap air yang sangat besar, karena itu bagian bawah lahan gambut akan tetap lembab dan basah walaupun bagian atasnya sudah kering.

Kemampuan lahan gambut Indonesia lainnya adalah sebagai pengendali iklim. Lahan gambut mampu menyimpan karbon 20 kali lipat lebih banyak dibandingkan hutan hujan tropis biasa atau tanah bermineral dan saat ini diperkirakan tersimpan 57 miliar ton karbon. Hal ini menjadikan lahan gambut Indonesia sebagai salah satu kawasan utama penyimpan karbon dunia, yang kemampuannya hanya mampu ditandingi oleh hutan hujan di Amazon yang menyimpan 86 miliar ton karbon. Selain cadangan karbon, lahan gambut juga merupakan sumber dari gas rumah kaca seperti metana (CH4) dan nitrogen oksida (N2O). Jumlah ini setara dengan 10% dari beban gas rumah kaca di atmosfer (Page, et.al. 2011).

Sayangnya keberadaan lahan gambut tropis di Indonesia terancam dengan kegiatan penebangan hutan, pembakaran hutan yang nantinya digunakan untuk pembukaan lahan pertanian atau tempat tinggal baru. Pada saat musim kemarau permukaan tanah gambut cepat sekali kering dan menyebabkan oksigen yang tersedia akan menstimulasi proses dekomposisi dan membuatnya rentan terhadap api. Ketika permukaan gambut terbakar, api di permukaan ini dapat merambat kelapisan bagian bawah/dalam yang relatif lembab. Pada saat membakar lapisan bawah gambut, kobaran api tersebut akan bercampur dengan uap air di dalam gambut dan menghasilkan asap yang sangat banyak. Asap yang dikeluarkan ini mengandung karbon dan gas – gas rumah kaca. Emisi yang dikeluarkan oleh lahan gambut ini menjadikan lahan gambut sebagai sumber emisi CO2 terbesar ke atmosfer, mengalahkan polusi udara akibat kendaraan dan industri. Selain dari emisi CO2, terjadi peningkatan emisi gas rumah kaca lainnya seperti metana (CH4) and nitrogen oksida (NO2). Mudahnya lahan gambut cepat kering dikarenakan karena kegiatan penggundulan hutan, pengeringan dan pembakaran hutan, serta alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan atau pertanian.


    
Gambar 3. Penggundulan lahan hutan Sumatera dan Kalimantan untuk keperluan perkebunan (www.worldwildlife.org/threats/deforestation)


Memelihara dan Menjaga daripada Memperbaiki
Efek dari kegiatan deforestasi lahan gambut tidak hanya terbatas pada lahan gambut dan ekosistem didalamnya, namun juga berpengaruh pada masyarakat sekitar, negara dan tidak tekecuali dunia. Kepedulian akan lestarinya lahan gambut harus melibatkan segala pihak, mulai dari masyarakat hingga negara. Rasa peduli yang sekiranya tumbuh dari daerah dan masyarakat yang bersinggungan langsung maupun tidak langsung dengan lahan gambut perlu didukung dengan kepedulian segala pihak yang terkait baik perusahaan, komunitas, hingga negara. Penerapan peraturan, undang – undang dan hukum yang mampu mengatur penggunaan lahan yang bertanggung jawab dapat menjadi salah satu bentuk kepedulian keberlangsungan lahan gambut. Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga keberlangsungn lahan gambut dengan menerapkan hukum dan peraturan yang berhubungan dengan tata cara pembukaan perkebunan di lahan gambut yang dalam, membatasi penerbitan konsesi perkebunan dan mencegah kebakaran di lahan gambut. Indonesia juga telah melakukan moratorium penebangan dengan dukungan kuat dari Norwegia melalui proyek REDD (Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation), serta menerbitkan peraturan untuk melindungi hutan yang tersisa.

Pendidikan dan Pengajaran tentang Gambut
Solusi yang ditawarkan diatas tidak akan memberikan efek yang baik jika tingkat pemahaman akan pentingnya lahan gambut kurang dapat dimengerti berbagai pihak. Bisa jadi, penduduk yang melakukan atau memperbolehkan penebangan hutan dan pembakaran hutan di lahan gambut, melakukannya karena kurangnya pemahaman dan pengetahuan mereka mengenai peran, fungsi dan bahaya dari lahan gambut. Kesadaran masyarakat untuk menjaga lahan gambut dapat timnbul Karena meningkatnya pemahaman mereka mengenai lahan gambut itu sendiri. Penyuluhan yang baik dan teratur dapat membantu masyarakat untuk lebih memahami peran dan fungsi lahan gambut, dan pada akhirnya akan menimbulkan rasa menjaga lahan gambu di daerah mereka masing – masing. Penyuluhan ini dapat dilakukan ke desa – desa, sekolah – sekolah dan lembaga kemasyarakatan yang ada. Penyuluhan dapat dilakukan dengan diskusi dalam forum informal, maupun dengan mengajak masyarakat untuk melihat, berkunjung dan menikmati kekayaan lahan gambut di daerahnya masing – masing. Sekolah dan universitas sebagai lembaga pendidikan bagi generasi muda dapat memasukan pengajaran mengenai lahan gambut dalam bentuk pelajaran muatan lokal, kegiatan karya wisata dan kegiatan ekstra kurikuler di sekolah. Guru, dosen, dan tenaga kependidikan dapat dibekali atau membekali diri dengan pengetahuan mengenai lahan gambut dan men-transfer pengetahuan mereka kepada anak didiknya. Rasa peduli yang timbul di masing – masing anak didik ini mengenai lahan gambut dapat menjadi titik awal kepedulian siswa – siswa ini akan keberadaan, peran dan fungsi lahan gambut didaerahnya masing – masing. Diharapkan dengan adanya rasa peduli ini, mereka dapat menyebarkan informasi ini ke teman – teman sekitar, keluarga atau bahkan dikomunitasnya masing – masing. Dibantu dengan penerapan hukum dan peraturan yang baik yang disertai dengan pemahaman yang baik pula, tindakan nyata untuk menjaga keberlangsungan lahan gambut dapat terealisasikan.


Gambar 4. Sisa hutan gambut di Semenanjung Kampar yang tersisa, kini semakin terancam aktivitas penebangan untuk memenuhi kebutuhan pulp and paper. (Greenpeace Indonesia)

Adinugroho, W. C., I N.N. Suryadiputra, Bambang Hero Saharjo dan Labueni Siboro., Panduan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut, Proyek Climate Change, Forests and Peatlands in Indonesia, Wetlands International – Indonesia Programme dan Wildlife Habitat Canada, Bogor, Indonesia, 2005.

Jaenicke, J., 3D modeling and monitoring of Indonesian peatlands aiming at global climate change mitigation, LMU, Muchen, 2010

Jaenicke, J., Determination of the amount of carbon stored in Indonesian peatlands, Geoderma 147, 2008

Page, S. E., J. O. Rieley, C. J. Banks, Global and regional importance of the tropical peatland carbon pool, Global Change Biology, 2011

Wahyunto, Bambang Heryanto, Hasyim Bekti dan Fitri Widiastuti, Peta-Peta Sebaran Lahan Gambut, Luas dan Kandungan Karbon di Papua / Maps of Peatland Distribution, Area and Carbon Content in Papua, 2000 – 2001, Wetlands International – Indonesia Programme & Wildlife Habitat Canada (WHC), 2006

Warren, M., Tropical peatlands of Southeast Asia: Functions, threats and the role of fire in climate change mitigation, USDA Forest Service, Northern Research Station




Rabu, 24 Agustus 2016

Indonesia = Geothermal Power




Minyak, batu bara dan gas alam adalah bahan bakar fosil yang umum dipakai di Indonesia bahkan di dunia. Hingga saat ini konsumsi bahan bakar terbesar masih dipegang oleh minyak bumi dan disusul batubara, gas alam, dan paling akhir adalah energi terbarukan seperti panas bumi dan air. Indonesia memiliki cadangan minyak bumi sekitar 4 milyar barrel (1 barrel = sekitar 150 liter), cadangan batu bara berkisar 3% dari jumlah cadangan dunia dan sebagian besar (70% - 75%) dieskpor ke luar negeri dan sisanya untuk domestik. Cadangan batu bara Indonesia diproyeksikan habis dalam 70 juta tahun ke depan, dengan asumsi jumlah cadangan sebesar 28 miliar ton dan tingkat produksi 400 juta ton per tahun. Untuk gas alam, total cadangan gas bumi Indonesia Indonesia di 2012 adalah sebesar 152,89 TSCF (trilions of cubic feet) atau sekitar 3% dari cadangan gas bumi dunia. Namun baru 6% dari jumlah cadangan yang ada yang dimanfaatkan dan diperkirakan cadangan gas bumi dapat bertahan hingga 59 tahun mendatang.

Walau cadangan bahan bakar fosil yang ada mampu menopang Indonesia hingga puluhan tahun ke depan, emisi yang ditimbulkan dari penggunaan bahan bakar fosil ini memberikan dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan. Emisi gas yang dihasilkan dari bahan bakar fosil ini antara lain adalah emisi karbon dioksida, karbon monoksida, nitrogen oksida, sulfur dioksida, merkuri dan partikel – partikel berbahaya lainnya.

Mengingat cadangan energi fosil yang hanya mampu bertahan hingga puluhan tahun dan kekhawatiran tentang dampak emisi bahan bakar fosil terhadap lingkungan telah menyebabkan dan meningkatnya minat akan sumber-sumber energi terbarukan seperti energi matahari, nuklir, air, angin, hydro power, samudra (ombak), biomassa, panas bumi (panas bumi), dan lain-lain. Dari keunikan Indonesia sendiri, energi panas bumi adalah salah satu sumber energi terbarukan yang cocok bagi Indonesia, serta energi panas bumi nyaris tidak memberikan dampak yang buruk bagi lingkungan.

Secara umum, sistem panas bumi dapat diartikan sebagai sistem penghantaran panas yang berada di dalam inti bumi ke permukaan bumi. Bagian inti bumi ini sangat panas sehingga dapat mencairkan batu dengan cukup mudah. Akibatnya adalah batu-batu yang panas di bawah permukaan bumi ikut memanaskan fluida termal sehingga terjadilah penguapan. Dalam perjalanannya, fluida termal yang berupa uap dan atau air panas  dapat tersimpan dalam suatu formasi batuan yang berada diantara sumber panas dan daerah tampungan panas (reservoir). Untuk memanfaatkannya, dibuat lubang dengan cara mengebor ke daerah panas bumi pada kedalaman tertentu sehingga uap air dapat terbebaskan. Selama proses, di stasiun panas bumi dibor lubang seperti disebutkan di atas dan dibuat sumur injeksi dimana air dingin dipompakan ke sumur. Air dingin ini kemudian dialirkan melewati batu panas dan kemudian tekanan digunakan untuk mengeluarkan air kembali. Setelah air panas mencapai permukaan, air tersebut berubah menjadi uap, yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber daya penggerak turbin. Kemudian uap yang sudah dibersihkan dan disaring lalu digunakan untuk menggerakkan turbin listrik, yang pada gilirannya akan menghasilkan energi listrik.

Secara lebih spesifik, sistem panas bumi yang umum ditemukan di Indonesia adalah sistem hidrotermal yang berasosiasi dengan pusat vulkanisme atau gunung api. Sistem hidrotermal adalah sistem panas bumi dimana transfer panas dari sumber panas menuju permukaan bumi adalah melalui proses konveksi yang melibatkan fluida meteorik (air hujan yang meresap jauh ke bawah permukaan tanah) dengan atau tanpa jejak fluida magmatik. Gunung api merupakan contoh dimana panas terkonsentrasi dalam jumlah besar dan umumnya gunung api, baik yang aktif maupun yang dormant, adalah sumber panas dari sistem panas bumi. Karena itulah, Indonesia yang dikenal berada pada jalur cincin api (Ring of Fire) – daerah dengan aktivitas gunung api yang cukup dinamis - memiliki potensi panas bumi atau panas bumi terbesar di dunia karena banyaknya gunung berapi yang ada di negeri ini.

Menurut data Departemen ESDM Indonesia, Indonesia memiliki potensi energi panas bumi sekitar 29038 Mw atau setara dengan 19 milyar barrel minyak  dimana angka itu adalah setaran dengan 40% dari cadangan panas bumi dunia. Potensi ini tersebar di 256 titik tambang panas bumi pada 26 propinsi. Kapasitas terpasang saat ini hanya 1189 Mw (4,3%) saja dari seluruh potensi yang ada. Namun masih sedikit yang dimanfaatkan menjadi pembangkit listrik (yang dapat mencapai kisaran 1,2 Giga Watt). Hingga saat ini ada beberapa PLTP yang aktif memproduksi energi panas bumi seperti PLTP Kamojang (200 MW) Jabar, Lahendong 1,2 dan 3 (60 MW) Sulut, Dieng (60 MW) Jateng, Gunung Salak (375 MW) jabar, Darajat (255 MW) Jabar, Wayan Windu (227 MW) Jabar, dan Sibayak (10 MW) Sumut.

Melalui program pemerintah, sudah dan akan dibangun PLTP skala kecil maupun besar yang nantinya berguna menggantikan sumber pembangkit listrik konvensional. PLTP skala kecil dibangun di beberapa propinsi yang memiliki kapasitas maksimal 5 Mw dengan total kapasitas 200 Mw. Substitusi ini dapat menghemat penggunaan BBM sebesar lebih dari Rp 1,1 triliun per tahun (Prastawa, 2011). Selain itu pemerintah melalui BPPT mulai mengembangkan PLTP skala kecil dengan menerapkan teknologi binary cycle dengan kapasitas maksimum 1 Mw, pengembangan prototipe PLTP binary cycle 2 kw, pilot plant PLTP binary cycle 100 kW dan PLTP skala kecil kapasitas 3 MW dengan teknologi condensing turbine. 

Pemerintah Indonesia telah mencanangkan program cepat tanggap untuk meningkatkan kapasitas total listrik hingga 10,000 MW di tiap PLTP. Perusahaan Listrik Negara (PLN) memperkirakan bahwa hingga tahun 2014 akan terproduksi hingga 1,200 MW dari PLTP.  Diharapkan melalui pengembangan – pengembangan yang sudah dan akan dilakukan pada lapangan – lapangan potensial ini pada tahun 2025 Indonesia mampu memproduksi energi panas bumi sebesar 9,500 MW.

Untuk saat ini Indonesia menempati peringkat ketiga dalam pemanfaatan panas bumi menjadi pembangkit setelah Amerika dan Filipina. Padahal secara potensi Indonesia merupakan pemilik cadangan panas bumi terbesar di dunia. dengan potensi itu tentunya Indonesia sangat berkesempatan dapat menutupi dalam jumlah besar kebutuhan energinya dengan Panas Bumi yang renewable dan ramah lingkungan itu.

Hal yang dapat kita lakukan sebagai, sebagai peneliti, adalah dengan mengembangkan metode – metode baru dari segi pengolahan lapangan panas bumi yang lebih produktif dan efisien, model – model pembangkit listrik yang lebih efisien, dan bagaimana cara memanfaatkan energi yang diperoleh dari sumber panas bumi ini. Dengan potensi yang hanya ada di Indonesia – lokasi yang berada di Ring of Fire dunia – tentunya kita semua mengharapkan Indonesia mampu menjadi pemimpin dalam pengolahan dan produksi energi panas bumi di dunia.

Referensi:
BP Migas, Buletin No. 73 - Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, Jakarta, Agustus 2011
Ditjen Migas, Tim Kajian Batubara Nasional, Kelompok Kajian Kebijakan Mineral dan Batubara, Pusat Litbang Teknologi Mineral dan Batubara, 2006
Fridleifsson, I. B., Direct Use of Geothermal Energy Around the World, GHC Bulletin, Islandia,  Desember 1998
Long, M., Lewis, B., Ralph, M., Geothermal Power Production: Steam fro Free, Idaho, USA
Prastawa, A., Mengembangkan Potensi Panas Bumi di Indonesia, Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi BPPT
Saptadji, N., Energi Panas Bumi (Geothermal Energy), ITB



Kamis, 16 April 2015




That d**n quote ...
Everybody knows that quote ...
And sometimes this quote is become the best insult someone give to a teacher.

What do they know about teaching?
None, i believe. 
Because if they know how to become THE REAL TEACHER, 
they’ll keep their mouth shut (mind my language).  

Is teacher the second best (or even the last best) profession in whole world? (hyperbolic)

Become teacher is not easy as you think.
It’s takes all your mind, energy, heart to it.
The teacher is an excellent military strategist, they going for a “war”.
The moves that they will take, is not a clumsy one. They must prepare everything.

Here’s all an excellent military strategist should have.

1.   Perfect escape plans.
if you “tap dance” your way out of a sticky situation, then that implies that you get out of it in a clever way.
Every “trap” (questions) made by student, teacher should have the “escape” plan (answers).
     
Have you ever heard a story about a trapped lion and a mice?
Teacher is the lion, student is a trap and teacher’s escape plan is the mice.     

Student is full of curiousity, they can ask you anything. Sometimes you can answer that, sometimes you can’t answer that because not appropiate to you to answer and finally you don’t know what the answer.

Teacher always learning. Old and new, small and big stuff, teacher must know about it.
     

2.   Anthropologist in action.
Teacher are dealing with a “savage” inlander with awesomely fighting spirit.

Dealing with elementary student or even a teenage student is not an easy one. They got all the energy to behave uniquely, that really need a different treatment from the teacher.

Winning a war is not about powering someone, but sometimes how to pursuade someone to do your will.
Pursuade need all the charm, sweet talk, gentleness, care and a lot of love and laugh from the pursuader.

How can you pursuade the student who  feels that learning is just non-sense, because he/she already have everything?

How can you pursuade the student that just sit in the class is a torture?

How can you pursuade the student that is an outcast either in class, school or maybe in his/her family?

How can you help the student that give all his/her best and still stay at the “bottom” of the class?

Teacher must have different personality. A clown and a cryer, a boss and a servant, a brave and a coward, a witch and a muggle, a Superman and a Clark Kent, a noble and a peasant. Multiple personality disorder in a good way.

How’s that ???
Can you be like that ????

3.   Modern – sophisticated weapons.
The weaponry the teacher carry. The weapon are the teacher research and contemplation about the subject. How can they deliver theory based on long period research just in maximum 2 hours period of time to student?
Easy ???
Go try one, and let me know the answer.

4.   Battle field expert.
Do not forget to mention, the “war zone” where the battle begins and ends. Sometimes is friendly and sometimes is not. The war zone could be a no man’s land where everybody fight fairly or a man’s land when you must really – really careful with you step.

5.   A kamikaze spirit.
Sebelum ngajar, seorang guru harus ngerti semuanya. Teorinya dan praktiknya. Membuktikan teori yang sudah ada melalui praktikum is not easy as it looks. Melakukan praktikum bukan hal yang mudah apalagi aman, tidak semuanya aman. Sebelum semuanya disajikan ke murid, guru harus coba dulu. Sulit dan mudahnya suatu materi hingga dapat dimengerti siswa, guru yang harus memberi batasan. Apakah praktikum yang dilakukan atau tidak, guru harus coba dulu. Berbahaya atau amannya praktikum yang akan dikerjakan, guru harus coba dulu.
Guru harus punya jiwa kamikaze kalo mau sukses pelajaran.

As far as I know, all teachers can do almost anything.

Just like Bruno Mars song, Grenade, which says ...
I'd catch a grenade for ya
Throw my hand on the blade for ya
I'd jump in front of a train for ya
You know I'd do anything for ya
See I would go through all this pain
Take a bullet straight through my brain

They have to get electrifying themself before they can say how hazardous the electric is.

Do have a gut to do that ???
Let me know if you have it ...

6.   James Bond attitude
James Bond adalah agen rahasia fiksi yang terkenal karena hatinya yang dingin, mengutamakan selesainya tugas dan kurang memperhatikan perasaannya sendiri.
Seorang guru harus punya attitude kayak gini terhadap murid, maksudnya dia harus bisa keep perasaannya sendiri, kekesalan dia sendiri, kesedihan hatinya sendiri demi tercapainya tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Rasa sakit hati, sedih, panik dan masalah – masalah yang mungkin ada dalam hidup seorang guru harus mereka simpan dengan rapat, murid ga perlu tahu, tujuan murid adalah belajar bukan untuk tempat curhat guru.

Ada cerita seorang murid yang bertanya kepada gurunya.
Murid : “Miss, miss pernah panik ga ngeliat kita yang kadang males belajar, bahan pelajaran masih banyak, tes udah dekat?”
Guru :“Panik kok”
Muird : “Kok, ga keliatan?”
Guru : “Kalo gurunya panik, muridnya apalagi. Trus kalo kita udah sama – sama panik, selesai tuh masalah? Kan enggak!
Makanya sepanik – paniknya guru, guru harus tetap tenang (keep it cool), berpikir positif dan cari cara biar tuh anak2 bandel itu bisa diajarain belajar cepat dan ngerti dan bisa pas ujian”
Murid : “Kok bisa sih?”
Guru : “Sekali lagi belajar, segala sesuatu bisa dicapai kalo belajar”

They have to keep smiling and full of spirit for the student, eventhough problems lingering in their mind, not mention the stomachache they feel during teaching.


My point is ....


TEACHER is AWESOME