Lahan gambut adalah sisa dari tumbuhan mati, yang belum terurai
secara sempurna dan telah terkumpul selama ribuan tahun di lingkungan berair.
Lingkungan ini langka oksigen dan pada akhirnya menjadikan gambut menjadi tempat
akumulasi dan penyimpanan karbon. Sekitar 70% lahan gambut tropis terletak di
Asia Tenggara dan Indonesia dengan iklim tropisnya memiliki lahan gambut yang
menyelimuti 10% dari daratan Indonesia. Lahan gambut ini memanjang seluas 16,8 hingga
27,0 juta hektar (Page and Banks, 2007) dan menyebar
didaerah pesisir maupun pedalaman Sumatra, Kalimantan, dan Papua (Wahyunto
et al., 2003, 2004; Janiecke, 2010; Page et al., 2011). Lahan gambut tropis di Indonesia
terbentuk akibat akumulasi pembusukan tidak sempurna sisa – sisa tumbuhan
selama ribuan tahun (±15000 tahun) dan telah mencapai kedalaman hingga lebih
dari 10 meter.
Gambar 1. Sebaran lahan gambut di dunia
(Freeman, 2012)
Gambar 2. Peta Sebaran
Lahan Gambut Indonesia (edited from www.greenpeace.org)
Karakteristik
Lahan Gambut Indonesia
Lahan gambut Indonesia memiliki ekosistem yang sangat
khas. Kekhasan ini dipengaruhi oleh ekosistemnya yang selalu digenangi air
setiap tahunnya dan jauh dari gangguan. Dengan
karakteristik lahan gambut tersebut beserta vegetasi yang tumbuh diatasnya
menjadikan lahan ini memiliki sumber daya alam dengan berbagai fungsi. Fungsi –
fungsi tersebut antara lain adalah sebagai pendukung berbagai kehidupan keanekaragaman hayati,
pelestarian sumberdaya air, peredam banjir, pencegah intrusi air laut, dan
pengendali iklim (melalui kemampuannya dalam memendam dan menyerap karbon). Karakteristik lahan gambut ini mampu menjadi pendukung
berbagai kehidupan keanekragaman hayati, Jenis – jenis hayati yang ada di lahan
ini terdiri dari flora dan fauna. Flora yang ada pada lahan tersebut antara
lain berupa kayu rotan, pandan, palem-paleman dan berbagai jenis liana.
Jenis fauna yang dapat ditemukan di lahan tersebut antara lain berupa berbagai
jenis mamalia, reptil, ikan, dan burung.
Peran lain dari lahan
gambut Indonesia adalah sebagai pelestarian
sumberdaya air dan peredam banjir. Lahan
gambut Indonesia mempunyai kemampuan dalam menyerap air yang sangat besar,
karena itu bagian bawah lahan gambut akan tetap lembab dan basah walaupun bagian
atasnya sudah kering.
Kemampuan lahan
gambut Indonesia lainnya adalah sebagai pengendali
iklim. Lahan gambut mampu
menyimpan karbon 20 kali lipat lebih banyak dibandingkan hutan hujan tropis
biasa atau tanah bermineral dan saat ini diperkirakan tersimpan 57 miliar ton
karbon. Hal ini menjadikan lahan gambut Indonesia sebagai salah satu kawasan
utama penyimpan karbon dunia, yang kemampuannya hanya mampu ditandingi oleh
hutan hujan di Amazon yang menyimpan 86 miliar ton karbon. Selain cadangan
karbon, lahan gambut juga merupakan sumber dari gas rumah kaca seperti metana (CH4)
dan nitrogen oksida (N2O).
Jumlah ini setara
dengan 10% dari beban gas rumah kaca di atmosfer (Page, et.al. 2011).
Sayangnya
keberadaan lahan gambut tropis di Indonesia terancam dengan kegiatan penebangan
hutan, pembakaran hutan yang nantinya digunakan untuk pembukaan lahan pertanian
atau tempat tinggal baru. Pada saat
musim kemarau permukaan tanah gambut
cepat sekali kering dan menyebabkan oksigen
yang tersedia akan menstimulasi proses dekomposisi dan membuatnya rentan
terhadap api. Ketika permukaan gambut terbakar, api di permukaan ini dapat merambat kelapisan bagian bawah/dalam
yang relatif lembab. Pada saat membakar lapisan bawah gambut, kobaran api
tersebut akan bercampur dengan uap air di dalam gambut dan menghasilkan asap
yang sangat banyak. Asap yang dikeluarkan ini mengandung karbon dan gas – gas
rumah kaca. Emisi yang
dikeluarkan oleh lahan gambut ini menjadikan lahan gambut sebagai sumber emisi CO2 terbesar ke atmosfer,
mengalahkan polusi udara akibat kendaraan dan industri. Selain dari emisi CO2,
terjadi peningkatan emisi gas rumah kaca lainnya seperti metana (CH4) and nitrogen oksida (NO2). Mudahnya
lahan gambut cepat kering dikarenakan karena
kegiatan penggundulan hutan, pengeringan dan pembakaran hutan, serta alih
fungsi hutan menjadi lahan perkebunan atau pertanian.
Gambar 3. Penggundulan lahan hutan
Sumatera dan Kalimantan untuk keperluan perkebunan (www.worldwildlife.org/threats/deforestation)
Memelihara
dan Menjaga daripada Memperbaiki
Efek dari kegiatan deforestasi
lahan gambut tidak hanya terbatas pada lahan gambut dan ekosistem didalamnya,
namun juga berpengaruh pada masyarakat sekitar, negara dan tidak tekecuali
dunia. Kepedulian akan lestarinya lahan gambut harus melibatkan segala pihak,
mulai dari masyarakat hingga negara. Rasa peduli yang sekiranya tumbuh dari
daerah dan masyarakat yang bersinggungan langsung maupun tidak langsung dengan
lahan gambut perlu didukung dengan kepedulian segala pihak yang terkait baik
perusahaan, komunitas, hingga negara. Penerapan peraturan, undang – undang dan
hukum yang mampu mengatur penggunaan lahan yang bertanggung jawab dapat menjadi
salah satu bentuk kepedulian keberlangsungan lahan gambut. Indonesia telah
melakukan berbagai upaya untuk menjaga keberlangsungn lahan gambut dengan
menerapkan hukum dan peraturan yang berhubungan dengan tata cara pembukaan
perkebunan di lahan gambut yang dalam, membatasi penerbitan konsesi perkebunan
dan mencegah kebakaran di lahan gambut. Indonesia juga telah melakukan
moratorium penebangan dengan dukungan kuat dari Norwegia melalui proyek REDD
(Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation), serta
menerbitkan peraturan untuk melindungi hutan yang tersisa.
Pendidikan dan Pengajaran tentang Gambut
Solusi yang
ditawarkan diatas tidak akan memberikan efek yang baik jika tingkat pemahaman
akan pentingnya lahan gambut kurang dapat dimengerti berbagai pihak. Bisa jadi,
penduduk yang melakukan atau memperbolehkan penebangan hutan dan pembakaran
hutan di lahan gambut, melakukannya karena kurangnya pemahaman dan pengetahuan
mereka mengenai peran, fungsi dan bahaya dari lahan gambut. Kesadaran
masyarakat untuk menjaga lahan gambut dapat timnbul Karena meningkatnya
pemahaman mereka mengenai lahan gambut itu sendiri. Penyuluhan yang baik dan
teratur dapat membantu masyarakat untuk lebih memahami peran dan fungsi lahan
gambut, dan pada akhirnya akan menimbulkan rasa menjaga lahan gambu di daerah
mereka masing – masing. Penyuluhan ini dapat dilakukan ke desa – desa, sekolah –
sekolah dan lembaga kemasyarakatan yang ada. Penyuluhan dapat dilakukan dengan
diskusi dalam forum informal, maupun dengan mengajak masyarakat untuk melihat,
berkunjung dan menikmati kekayaan lahan gambut di daerahnya masing – masing.
Sekolah dan universitas sebagai lembaga pendidikan bagi generasi muda dapat
memasukan pengajaran mengenai lahan gambut dalam bentuk pelajaran muatan lokal,
kegiatan karya wisata dan kegiatan ekstra kurikuler di sekolah. Guru, dosen, dan
tenaga kependidikan dapat dibekali atau membekali diri dengan pengetahuan
mengenai lahan gambut dan men-transfer pengetahuan mereka kepada anak didiknya.
Rasa peduli yang timbul di masing – masing anak didik ini mengenai lahan gambut
dapat menjadi titik awal kepedulian siswa – siswa ini akan keberadaan, peran
dan fungsi lahan gambut didaerahnya masing – masing. Diharapkan dengan adanya
rasa peduli ini, mereka dapat menyebarkan informasi ini ke teman – teman
sekitar, keluarga atau bahkan dikomunitasnya masing – masing. Dibantu dengan penerapan
hukum dan peraturan yang baik yang disertai dengan pemahaman yang baik pula, tindakan
nyata untuk menjaga keberlangsungan lahan gambut dapat terealisasikan.
Gambar 4. Sisa hutan gambut
di Semenanjung Kampar yang tersisa, kini semakin terancam aktivitas penebangan
untuk memenuhi kebutuhan pulp and paper. (Greenpeace Indonesia)
Adinugroho, W. C., I N.N. Suryadiputra, Bambang Hero
Saharjo dan Labueni Siboro., Panduan
Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut, Proyek Climate Change,
Forests and Peatlands in Indonesia, Wetlands International – Indonesia
Programme dan Wildlife Habitat Canada, Bogor, Indonesia, 2005.
Jaenicke, J., 3D modeling and monitoring of Indonesian
peatlands aiming at global climate change mitigation, LMU, Muchen, 2010
Jaenicke, J., Determination of the amount of carbon stored
in Indonesian peatlands, Geoderma 147, 2008
Page,
S. E., J. O. Rieley, C. J. Banks, Global
and regional importance of the tropical peatland carbon pool, Global Change
Biology, 2011
Wahyunto, Bambang Heryanto, Hasyim
Bekti dan Fitri Widiastuti, Peta-Peta
Sebaran Lahan Gambut, Luas dan Kandungan Karbon di Papua / Maps of Peatland Distribution, Area and
Carbon Content in Papua, 2000 – 2001, Wetlands International – Indonesia Programme & Wildlife Habitat
Canada (WHC), 2006
Warren,
M., Tropical peatlands of Southeast Asia: Functions, threats and the role of
fire in climate change mitigation, USDA Forest Service, Northern Research Station



